Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menggelar acara silaturahmi dalam rangka bulan suci Ramadhan 1446 H dengan tema “Ramadhan Kareem: Momentum Kita untuk Meningkatkan Ketaqwaan, Integritas, dan Profesionalitas”. Acara ini digelar di Pendopoan Kabupaten OKI, rumah dinas Bupati H. Muchendi, dan ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Asmar Wijaya.
Namun, munculnya dua versi undangan dengan agenda yang berbeda justru menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat: apakah ini benar-benar ajang rekonsiliasi pasca-Pilkada atau justru strategi politik untuk mempertegas batas antara yang menang dan yang kalah?

Berdasarkan undangan resmi, agenda silaturahmi ini terbagi menjadi dua undangan yang beredar.
Pertama,.Minggu, 9 Maret 2025 – Silaturahmi dan buka puasa bersama khusus untuk tim pemenangan bupati dan wakil bupati terpilih.namun jam 16 hingga selesai.
Kedua , Minggu 9 Maret 2025 silaturahmi dan buka puasa bersama untuk pejabat legislatif dan pemerintah , namun jam nya 15 sampai selesai.
Kisruh Silaturahmi: Rekonsiliasi atau Eksklusivitas Politik?
Dua versi undangan ini menimbulkan asumsi bahwa acara ini bukan untuk seluruh elemen politik di OKI, melainkan hanya untuk kelompok tertentu. Tidak ada undangan terbuka bagi Paslon 01 dan timnya, sehingga menimbulkan kesan bahwa pihak yang kalah tidak dianggap sebagai bagian dari proses rekonsiliasi pasca-demokrasi.
Masyarakat pun bertanya-tanya: Apakah ini bagian dari konsolidasi politik sepihak? Mengapa pihak yang kalah dalam Pilkada seolah dikesampingkan dari agenda silaturahmi?
Kelompok Celika Bermain?
Di tengah polemik ini, muncul spekulasi bahwa kelompok Celika, yang dikenal memiliki pengaruh dalam dinamika politik OKI, mungkin ikut bermain dalam kisruh ini. Sebagai kelompok yang masih memiliki jaringan kuat di pemerintahan dan dunia politik lokal, mereka bisa saja mengarahkan strategi untuk memperlemah oposisi atau bahkan mengendalikan arah komunikasi politik pasca-Pilkada.
Jika memang ada keterlibatan kelompok Celika, maka skenario yang mungkin terjadi adalah:
1. Memperkuat Dominasi Politik
Dengan membuat silaturahmi ini tampak eksklusif bagi pejabat dan tim pemenangan, ada upaya untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan dan mempersempit ruang gerak oposisi.
2. Memecah Belah Oposisi
Dengan tidak diundangnya pihak Paslon 01 dan timnya, bisa jadi ada strategi untuk melemahkan potensi oposisi dengan membiarkan mereka tercerai-berai tanpa forum resmi untuk berdiskusi dengan pemerintah daerah.
3. Mengamankan Kepentingan Jangka Panjang
Jika kelompok Celika masih memiliki kepentingan di OKI, maka pengelompokan silaturahmi ini bisa jadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga pengaruh mereka, baik dalam pemerintahan maupun dalam kontestasi politik ke depan.
Silaturahmi yang Kehilangan Esensi
Dalam konteks bulan suci Ramadhan, silaturahmi seharusnya menjadi ajang merajut kembali persaudaraan, bukan malah mempertegas perpecahan politik. Jika Pemkab OKI ingin membangun komunikasi yang sehat, maka silaturahmi harus inklusif untuk semua pihak, termasuk mereka yang kalah dalam Pilkada.
Jika pola eksklusivitas seperti ini terus berlanjut, maka masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan daerah. Pemimpin yang baik seharusnya merangkul semua rakyat, bukan hanya mereka yang ada di barisan pendukungnya.
Silaturahmi di bulan Ramadhan seharusnya membawa kesejukan, bukan justru menjadi panggung politik yang memperdalam sekat-sekat kepentingan. Jika memang tujuannya adalah membangun kebersamaan, semua pihak harus dirangkul tanpa terkecuali. Jika ini hanyalah strategi politik terselubung, maka masyarakatlah yang akan menjadi korban dari perpecahan yang disengaja.
Penulis adalah wartawan
Dan pemerhati sosial politik.









