Presiden Prabowo Subianto baru baru ini meresmikan Danantara dan Bank Emas. Danantara sendiri yang kita dengar adalah sebuah Lembaga Investasi yang sifatnya super holding temasek seperti Singapura, meskipun ada perbedaan tetapi secara prinsip operasional sama, sedangkan Bank Emas adalah tempat untuk menarik nasabah agar menyimpan Emas di Bank Emas.

Ali Pudi
Lembanga Danantara modal awalnya diambil dari Deviden BUMN BUMN,Dana Efisiensi Anggaran dan Penyertaan Modal Pemerintah.Danantara mestinya berbentuk Persero; jadi juga berupa BUMN. Karena aset-asetnya “diambil” dari BUMN-BUMN, entah dengan cara “membeli”, “meminjam” atau “merampok” masih tidak jelas. Dan tidak jelas pula pertanggungjawabannya, karena BUMN-BUMN itu sesungguhnya milik Rakyat: ada modal dari Negara, dan menguasai hajat hidup orang banyak. Awalnya ada 7 (tujuh) BUMN yang “dipaksa” bergabung ke dalam Super Holding BUMN tersebut… Sekarang bermaksud “mencaplok” semua BUMN pada akhir Maret menjadi 47 yang ikut bergabung.

Pasca peluncuran Danantara dan Bank Emas, nilai Rupiah menjadi jeblok: dari 15.900 menjadi 16.000; terus 16.200… sekarang 16.580; bahkan sebelumnya sudah menyentuh 16.700, dan akan menjadi 17.000 Rp/$… Kejatuhan Rupiah, seperti yang saya bilang berulang-ulang tidak bisa dihindarkan karena trend-nya memang naik terus… Kenapa?! Ada 3 sebab: (1) ketidakpercayaan kepada kemampuan Rezim (baca: ada Maling, Korupsi, dan lain-lain); (2) kebijakan keuangan dan pembangunan yang masih terus dipegang kelompok Mafia Berkeley (baca: Sri Mulyani dan kawan-kawannya); dan (3) fundamental Ekonomi Industri yang tidak pernah digarap dengan baik sejak pasca Krismon 1997/98 (baca: Neraca Pembayaran).
Pada akhirnya nanti Danantara dan Bank Emas menjadi sebagai ajang merampok uang rakyat dan pencucian uang para bajingan dan koruptor, kita sudah membaca sejarah Amerika sudah pernah membentuk Bank Emas untuk menarik Emas emas rakyat untuk disimpan, lama kelamaan Emas Rakyat pun hilang dan diganti dengan fiad pada akhirnya menjadi ricuh dan Amarah rakyat begitupun di Singapur lembaga seperti Danantara yang gagal.
Jakarta, 2 Maret 2025
Penulis
ALI PUDI
Aktivis 98, Jurnalis, Analis Politik dan Ekonomi









